Sabtu, 27 Maret 2010

Sebuah Cerita Untuk Sang Malam

Tanganku bergetar sepanjang hari ini, kala lirik jarum jam menuding arah 12 tepat. Sebuah keinginan yang tersekat sekian ribu dinding serasa mulai menggetarkan jari, bahkan sekedar menulis huruf-huruf "aku" pun hendak enggan.
Entah tentang siapa coretan ini tertulis. Tercurah begitu saja hendak hati dan angan. Angan yang sempat beranjak dari pijakan. Kini seakan tersungkur dalam buaian. Bukan sebuah ungkapan kekecewaan, hanya mencoba salurkan hasrat terpendam dan terdalam, yang diselimuti ketakutan di setiap malam, hingga berujung pada letupan.
Sebuah rasa decak kagum baru terkuak, sadari indah skenarioNya, jawaban atas tanya. Meski belum seluruhnya. Sebuah episode dramatik kisah tentang perjalanan.
Dari sebuah sisi cerita ini berawal, kian melebar, ciptakan sisi-sisi lain yang masih terus mencoba melihat dari masing-masing. Dan kini tlah berhias entah berapa banyak hiasan rasa, implementasi luapan tiap sisinya.
Yang sebenarnya sebuah tujuan sederhana dari keinginan, sebuah titik terang di ujung sana. Tapi alur skenarioNya kini semakin semarakkan di tiap tikungan.
Ada satu sisi yang melihat dengan pandangan penuh rasa, pandangan, lisan dan tulisan kini tlah mulai beranikan tuk merangkai sebuah ungkapan. Mencoba tiada gentar, tak hiraukan yang halangi pandang. Meski dengan bantuan sang angin malam. Meski sang angin malam lebih dahulu mengerti titik terang tujuan. Tapi angin malam pun tak bergoyah dari sisi dia bertahan. Dan kian mengerti akan tujuan. Tapi janji sang angin malam, mencoba pertaruhkan semua pada sang malam dan sampaikan tiap inci rasa yang diungkap di kala malam. Menghias alur cerita ini. Dan entah apa yang berada dalam benak sang angin malam.
Dan di suatu sisi yang lain. Mencoba mengamati, dan berkawan dengan angin malam. Bak sebuah jembatan membentang di atas sungai yang begitu luas. Hantarkan tiap orang yang hendak menuju seberang. Meski tak diketahui seberapa kuatnya akan bertahan. Mencoba tetap tegar dengan gilasan langkah
energic dari tiap rasa yang ingin menuju tujuan di seberang. Meski kadang ingin berteriak akan angan, tapi cukup dengan bisikan pada angin malam. Bertahan dari segala bentuk gilasan derap langkah yang meski kadang pancing letikan api amarah. Dan bisikan angin malam bukan halangi langkahnya, tapi hanya mencoba redam dalam sesuatu yang terdalam. Endapkan tiap letupan yang hendak tercurah dalam lisan dan tulisan. Seakan begitu mengerti akan sebuah tujuan, meski masih gelap serasa pandang langkah ke depan. Membuat segalanya cukup terpendam nan tak berberbekas. Meski tiap detik ada bisikan penggoda dari kerlingan bintang malam tentang terangnya titik tujuan. Tapi mengerti akan tujuan membuatnya memilih tuk tak bergeming dari pijakan rasanya. Mencoba puaskan diri dengan pandangi kerlingan indah terangnya.

Dan tanpa terasa, seiring putaran jarum jam yang masih begitu setia hentakkan tiap detik putaran bumi. Semua seakan melebur meski tak bercampur dari tiap sisinya. Tetap teguh dengan masing-masingnya. Mencoba masing-masing gapai raih tujuan dalam angan. Meski tujuan kini beranjak dari peraduan.
Dan kini, hanya tersisa pandangan, angan, dan senyuman. Berharap semua kan berujung pada kedamaian.



  • pujangga liar, 29 08 09. 02:43 clt. Di pojok balkon kampung 10, salah satu sudut segitiga.

  • spesial thanks 4 the inspirators....

  • the hope'll not die...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar